Maldives! Must Visit Place Before You Die

IMG_1225Maldives atau Maladewa adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di samudera Hindia, tepatnya di barat daya Sri Lanka. Negara ini merupakan negara muslim yang mana 100% penduduknya memeluk agama islam. Terdiri dari ratusan pulau-pulau kecil nan eksotis (atoll), berpasir putih, dan berair jernih dengan garis pantai yang panjang. Serta dipenuhi dengan berbagai macam terumbu karang plus ikan warna-warni yang bisa kita lihat dengan jelas dari pinggiran pantai. Ah surga! tidak heran Maladewa menjadi destinasi wisata favorit para turis mancanegara, tak terkecuali para selebriti Hollywood. Resort-resort mewah dengan mudah kita temukan, dari yang harga per malamnya ratusan bahkan hingga ribuan dollar. Tapi tenang, bukan berarti semua resort di Maladewa berkelas bintang lima. Ada juga resort-resort sederhana namun tetap nyaman yang berharga puluhan dollar per malam, cocok untuk kita yang ingin liburan dengan budget terbatas.

Selain berbahasa asli Maladewa, penduduk disana juga fasih berbahasa Inggris sehingga sangat membantu para wisatawan dalam berkomunikasi. Mata uang resmi adalah Maldivian Rufiyaa (MRF), akan tetapi dalam setiap transaksi, mereka juga menerima US Dollar (USD). Jadi anda tidak perlu khawatir jika hanya membawa uang dalam bentuk dollar. Untuk konversinya sendiri, 1 dollar sekitar 15 rufiyaa, jika dibawa ke kurs rupiah saat ini, 1 rufiyaa kurang lebih 800 rupiah.

Untuk mencapai Maladewa dari Indonesia, penerbangan terdekat adalah dari Singapura. Maskapai yang sering menawarkan promo penerbangan Singapura-Maladewa adalah Tiger Airways dan Sri Lankan Airways. Tiket promo biasanya tersedia menjelang HUT maskapai yang bersangkutan, saya dan teman-teman melakukan trip ke Maladewa pada November 2014 dengan bermodal tiket promo Singapura – Maladewa IDR400K.

Dari Singapura dibutuhkan waktu empat sampai lima jam untuk sampai di Bandara Internasional Ibrahim Nasir di Pulau Hulhule. Jika ingin ke Malé dari Bandara tersebut, maka pengunjung bisa memanfaatkan public boat yang dermaganya ada persis di depan bandara, biaya yang dibutuhkan pun cukup murah, hanya  USD1 atau sekitar MRF15. Public boat ini beroperasi 24 jam, berangkat setiap 15 menit sekali dan jika dinihari maka hanya berangkat tiap 30 menit.

IMG_1190

Pemandangan dari Bandara Ibrahim Nasir

Berkunjung ke Maladewa tidak memerlukan visa, karena mereka akan dengan senang hati memberikan visa on arrival kepada para pengunjung yang bisa diurus dengan cepat dan mudah di Imigrasi bandara. Mereka hanya menanyakan tempat tinggal kita selama berada di Maladewa. Begitu keluar di pintu kedatangan, maka kita akan disambut oleh berbagai macam stand dari resort-resort yang ada disana. Stand ini pula yang mencerminkan mana resort kelas premium dan mana resort sendal jepit. Resort premium biasanya memiliki lounge tersendiri lengkap dengan ruang tunggu, TV, AC, dan segala kelengkapannya. Nama-nama seperti Jumeirah , Taj Exotica, dan Conrad adalah contohnya, sedangkan resort sendal jepit cukup dengan stand 1×1 meter persegi dan papan nama. Saya ambil yang mana? sudah barang tentu yang kedua.

Yang perlu kita lakukan jika kita menginap di resort adalah, mendatangi stand resort tempat kita menginap yang ada di Bandara. Setelah dicocokan dengan daftar tamu pada hari itu, maka kita akan diantar oleh guide menuju tempat transfer. Dan inilah salah satu yang membuat liburan di Maladewa lebih mahal, karena Maladewa adalah negara kepulauan, maka transfer dari dan ke resort hanya bisa dilakukan dengan dua cara. Untuk jarak resort yang dekat, bisa ditempuh dengan menggunakan speedboat dan untuk jarak resort yang jauh, maka kita harus naik seaplane, itupun diluar biaya menginap di resort. Harga untuk speedboat sekitar USD65 PP per orang sedangkan seaplane USD450.

IMG_2288

Kurumba Resort

Untuk diketahui, public beach di Maladewa sangat terbatas, Contoh public beach yang bebas diakses adalah Kuda Bandos dan Hulhumale (Pulau hasil reklamasi, bersebelahan dengan Hulhule) dengan pemandangan yang tidak terlalu mengecewakan. Rata-rata tiap satu pulau eksotis itu dimiliki dan dikuasai oleh satu resort, sehingga kita tidak diijinkan mengunjungi pulau tersebut kecuali kita menginap disitu. Walaupun memang ada beberapa resort yang menawarkan one day tour dengan biaya tertentu.

Secara garis besar pulau-pulau di Maladewa terbagi menjadi dua daerah, north atoll dan south atoll. Dalam perjalanan kemarin saya menginap di Kurumba, yang konon katanya merupakan resort pertama yang dibangun di Maladewa. Terletak di north atoll, berjarak hanya sekitar 10 menit dari bandara menggunakan speedboat. Kedatangan saya disambut oleh dermaga bersih berair jernih, dengan sesekali anak hiu lewat di pinggiran pantai. Suasananya sangat tenang dengan hamparan pohon kelapa di sekeliling pulau. Ciri khas Kurumba adalah adanya bungalow mini yang menjorok ke laut, yang biasanya dimanfaatkan untuk dinner sampai massage spa. Fasilitas yang ditawarkan pun super lengkap, dari kolam renang, water sport center, berbagai macam restoran, lapangan voli, masjid, karaoke, dll. Yang bikin saya bangga adalah, salah satu menu di resto Kurumba ada yang khas Indonesia banget, dan mereka menulis itu, Bami goreng.

IMG_1218

Aerial view Kurumba

IMG_1773

Pemandangan di dalam Kurumba

IMG_1674

Restoran

IMG_1732

Bungalow tempat massage dan dinner

Tidak lengkap rasanya berkunjung ke negara kepulauan tanpa menikmati pemandangan bawah lautnya. Walaupun hanya dengan snorkeling yang peralatanya bisa disewa gratis sebagai bagian dari fasilitas resort. Seperti kebanyakan daerah yang sudah menjadi tujuan wisata, kerusakan ekosistem terumbu karang akibat ulah manusia tidak terhindarkan. Namun demikian kita masih bisa menemukan spot-spot bagus disana, hanya saja yang perlu diperhatikan saat snorkeling adalah adanya ular laut dan hiu dewasa yang kadang muncul di pinggiran resort.

IMGP0133

Terumbu Karang

Setelah mencicipi indahnya (dan mahalnya) Kurumba, saya pindah tempat menginap ke  Malé tepatnya di Luckyhiya Hotel. Hampir  tidak ada yang spesial di kota yang menyandang sebutan Ibukota ini, sayapun sudah diwanti-wanti oleh petugas resort di Kurumba yang juga merupakan penduduk asli Malé tentang hal tersebut. Tapi hanya karena sekedar menghilangkan rasa penasaran makanya tetap nekat berkunjung, dan hasilnya sungguh diluar bayangan. Kesan pertama yang muncul ketika disebut Maldives adalah resort-resort yang indah dan eksotis, itu benar, akan tetapi kondisi di luar resort justru sangat biasa.

IMG_2309

Sudut kota Malé

Hampir 95% penduduk Maladewa tinggal disini, sebuah pulau kecil berdiameter kurang lebih 3 Km  yang bisa kita khatamkan dalam satu hari. Karena sempitnya lahan, maka tak heran bangunan-bangunan di Malé dibuat tinggi menjulang, jalanan pun terkesan sempit. Yang menarik adalah, sepengamatan saya, jalanan di Malé tidak beraspal, melainkan menggunakan paving block, dan para pengendara motor di Malé tidak ada yang menggunakan helm. Mungkin karena pertimbangan kecilnya jalan dan kota, sehingga tidak ada pengendara yang mengebut di jalan raya. Taman kota pun biasa sekali, bahkan lebih bagus Alun-alun Kidul Jogja kalau boleh dibandingkan. Tapi sekali lagi, yang mereka jual memang resort bukan kotanya, jadi bisa dimaklumi.

IMG_0866

Istana Negara Maladewa

Hari berikutnya saya mengikuti one day tour ke resort lain yang terletak di south atoll bernama Embudu, tipikal dengan kurumba, hanya saja Embudu mempunyai lagoon yang luas. Bisa dibayangkan betapa indahnya pemandangan disana dengan gradasi warna pasir yang putih, air laut yang biru muda, kemudian biru tua.  Harga one day tour di Embudu resort seharga USD100/orang/hari. Dengan biaya tersebut kita sudah mendapatkan fasilitas antarjemput menggunakan speedboat, kamar, makan siang, dan juga akses ke fasilitas yang dimiliki resort selama sehari penuh.

IMG_2385

Blue Lagoon Embudu

IMGP0263

Sand bank Embudu

Namun begitu pemandangan di dalam negeri saya jamin tidak kalah cantik, hanya masalah tata kelola, kesiapan bahasa, dan infrastruktur yang perlu dibenahi agar destinasi-destinasi unggulan dapat menjadi seterkenal dan senyaman Maldives.

Memang hanya pantai, pasir putih, dan pohon kelapa yang di Indonesia pun ada, tapi kalau berfikir seperti itu saya jamin anda tidak akan pernah kemana-mana.

Advertisements

3 thoughts on “Maldives! Must Visit Place Before You Die

  1. Wahh trip to Maldives-nya seru kali yah, oiya mas bisa dikasi bocoran nggak kira-kira budget yang perlu di bawa kalo nge-trip ke Maldives sekitar berapa juta? Untuk traveling ala backpacker lah

    anyway, thanks for share yaa

    Like

    • kemarin pake cc juga jadi pastinya kurang tau, tapi sekitar belasan bawah mbak, gak sampe 15, asal nginep di resortnya semalem aja

      Liked by 1 person

  2. Ohh gitu, belasan juta yaa budgetnya, wkwkwk
    sama aja mas arif, sama aja ngos ngosan aku mah! haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s